Mahasiswa Gresik Terpapar Mikroplastik, Mahasiswa Desak Penetapan Baku Mutu

0
Mahasiswa Gresik Terpapar Mikroplastik, Mahasiswa Desak Penetapan Baku Mutu (foto : ist)

hariangresik.com | GRESIK – Kelompok Studi Mahasiswa Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Sunan Gresik resmi meluncurkan gerakan Environmental Sovereignty Goals (ESG) di Lobby Gedung Kampus B Universitas Sunan Gresik.

Dalam peluncuran tersebut, ESG merilis hasil pemeriksaan awal yang menunjukkan bahwa 100 persen dari 100 partisipan yang terdiri atas mahasiswa, akademisi, dan masyarakat Gresik terpapar mikroplastik pada permukaan kulit wajah dan tangan.

Temuan tersebut diperoleh melalui pemeriksaan langsung menggunakan mikroskop digital dalam pameran interaktif yang diselenggarakan sebagai bagian dari peluncuran kelompok studi. Hasil pengamatan menunjukkan setiap partisipan memiliki partikel mikroplastik dengan karakteristik yang beragam.

Dari hasil pemeriksaan, ditemukan 4 hingga 7 partikel mikroplastik jenis fiber per orang yang diduga berasal dari serat kain sintetis seperti nylon, poliester, dan akrilik. Jumlah tersebut meningkat hingga 12 partikel pada individu yang mengenakan pakaian berbahan poliester dengan corak tebal.

Selain itu, ditemukan 1 hingga 3 partikel mikroplastik jenis fragmen yang berasal dari degradasi plastik keras seperti PET (Polyethylene Terephthalate), PVC (Polyvinyl Chloride), PP (Polypropylene), PS (Polystyrene), dan HDPE (High-Density Polyethylene).

Menurut ESG, partikel-partikel tersebut berasal dari berbagai sumber, antara lain pakaian berbahan sintetis, gesekan ban kendaraan di jalan raya, serta degradasi sampah plastik multilayer yang tersebar di udara.

Menanggapi temuan tersebut, mahasiswa Universitas Sunan Gresik, Deny Maulana Roziqin, menilai pemerintah perlu segera menetapkan baku mutu mikroplastik di Indonesia.

“Sejauh ini saya belum mengetahui apa bahaya plastik, yang saya tahu hanya menjadi penyebab banjir. Tapi setelah mengetahui paparannya menempel pada kulit manusia, masuk ke dalam tubuh, bahkan sampai pada air ketuban, saya merasa memang Indonesia harus cepat-cepat membuat baku mutu mikroplastik. Tadi saya sempat mendengar pemaparan dari teman-teman ESG bahwa di Indonesia belum ada baku mutunya,” ujarnya.

Respons serupa disampaikan oleh Yuli Ariyanti Wulandari, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sunan Gresik. Ia menilai isu mikroplastik membuka ruang kajian baru yang perlu diteliti lebih lanjut dari perspektif psikologi.

“Pemaparan ini benar-benar memicu ketertarikan akademis saya. Sebagai bentuk respons nyata, saya merasa sangat terpanggil untuk membawa isu ini ke dalam penelitian lebih lanjut di prodi saya guna menggali sejauh mana polutan tak kasat mata ini memengaruhi kapasitas psikologis manusia modern,” katanya.

Dukungan juga datang dari Kepala Program Studi K3 Universitas Sunan Gresik, Achmad Sakhowi Al Awwarij, S.K.M., M.KKK. Menurutnya, kegiatan semacam ini penting untuk memperkuat nalar ilmiah mahasiswa dalam merespons isu lingkungan yang semakin kompleks.

“Kegiatan seperti ini harus didukung dan didampingi secara penuh oleh jajaran dosen pengampu. Hal ini penting untuk mematangkan nalar ilmiah dan ketajaman analisis mahasiswa dalam merespons isu mikroplastik yang kian mengancam peradaban manusia jika melihat luasnya jalur paparan yang ada,” ujarnya.

Ia menegaskan komitmen civitas akademika Universitas Sunan Gresik untuk mendukung pengembangan kelompok studi tersebut agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.

Sementara itu, Dafa Ubaidillah Naufal Baihaqi dari Bidang Kajian Ekologi ESG menekankan pentingnya penetapan baku mutu mikroplastik sebagai dasar regulasi nasional.

“Baku mutu mikroplastik harus segera ditetapkan sebagai landasan regulasi dalam melawan ancaman ini. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat sangat krusial agar pemerintah berani mengambil sikap dan merealisasikannya melalui sosialisasi yang aktif kepada masyarakat luas,” katanya.

Peluncuran ESG dilakukan sebagai upaya menghidupkan kembali literasi ekologi dan advokasi lingkungan di kalangan mahasiswa. Gerakan ini lahir dari kajian mahasiswa terhadap temuan penelitian Ecoton mengenai paparan mikroplastik pada tubuh pekerja pengelola sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Melalui pameran dan pemeriksaan langsung tersebut, ESG berharap dapat meningkatkan kesadaran publik mengenai ancaman mikroplastik sekaligus mendorong lahirnya regulasi yang mengatur baku mutu mikroplastik di Indonesia. ESG juga mengajak mahasiswa untuk memperkuat gerakan literasi dan penelitian sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menghadapi krisis mikroplastik yang semakin meluas. (lim)